Pengertian

  • Naning Pranoto, dalam Creative Writing menulis: Ibarat pohon, creative writing adalah sebuah pohon yang banyak cabang dan rantingnya. Pohon rindang itu penuh bunga indah dan buah lezat penuh manfaat. Bunganya yang indah berupa puisi, cerita pendek, novel, lakon sandiwara, yang menghiasi kehidupan peradaban manusia. Buahnya yang lezat dapat ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dsb.
  • Dengan kata lain, creative writing bukanlah tulisan biasa. Ia tulisan luar biasa, menimbulkan imajinasi, inspirasi dan daya kritis pembacanya.
  • Imajinasi mampu mengusik, membuai, merangsang, melambungkan, menerbangkan, serta menghanyutkan, bahkan bisa jadi mengaduk-aduk perasaan. Inilah perbedaan penting antara tulisan biasa dan tulisan kreatif.
  • Inspirasi bisa membawa orang keluar dari kegelapan menuju alam terang, dari kemandegan berpikir menuju kecerahan untuk mencipta. Inspirasi dapat membawa manusia menuju masa depan yang lebih baik dalam kehidupannya.

Contoh

Tulisan biasa:

– Angin bertiup menggoyang lampu

Tulisan Kreatif

–          Angin bertiup mempermainkan lampu

(sumber: Mayat wanita tua, karya Hamsad Rangkuti)

Tulisan biasa:

–          Di daratan itu terdapat bukit-bukit

Tulisan kreatif:

–          Di daratan itu tumbuh bukit-bukit

(sumber:  Salat lebaran di kampung konsentrasi karya Sides Sudaryanto SD)

Jenis Creative Writing

1. Creative writing fiction

  • Novel,
  • Novelette/novet (novel pendek)
  • Cerpen
  • Cerpan
  • Cermin/flash
  • Naskah drama/pentas
  • Naskah drama
  • Puisi tradisional
  • Puisi modern
  • Epik/epos
  • Dongeng
  • Lirik lagu
  • Teks iklan (versi cetak)
  • Skrip iklan (versi TV/radio)
  • Screenwriting (skenario film dan sinetron)

2. Creative writing nonfiction

  • Otobiografi
  • Biografi
  • Esai
  • Memoar
  • Artikel khusus (features)
  • Surat cinta
  • Laporan perjalanan  (travel writing)
  • Jurnalistik sastrawi (literary journalism)
  • Program TV (creative writing TV program)

Proses kreatif

Menulis naskah drama, novel, cerpen, tv program dan semacamnya,   merupakan kegiatan proses kreatif. Proses kreatif  yang berangkat dari dorongan bawah sadar untukmelahirkan sebuah karyasastra.Proses kreatif bukan dihasilkan oleh adanya peniruan, penyesuaian, atau pencocokan terhadap pola-pola yang telah dibuat sebelumnya. Kreatifitas menyangkut tahapan pemikiran imajinatif: merasakan, mengahayati, menghayalkan, dan menemukan kebenaran.

Perjalanan sebuah proses kreatif menulis naskah drama dimulai dari keinginan  penulis dan angan-angan dalam hatinya hingga mewujudkan satu bentuk karya. Andre Malraux menyebut perjalanan proese kreatif semacam ini sebagai proses `melihat, mendalami, dan mewujudkan. Untuk mendalami proses perjalanan melihat, mendalami, dan mewujud tersebut perlu fase-fase proses dengan pola berikut:

1. Merasakan

Merasakan adalah bagian terpenting dari panca indera manusia. Segala sensasi dalam diri manusia selalu dengan fase merasakan. Merasakan diartikan sudah melewati proses melihat dan mendengar dan menyerap. Melihat dan mendengar apa yang ada, siapa yang melakukan, apa yang terjadi, bagaimana kejadiannya, kapan terjadinya, dan dimana kemudian merasakan dan menyerapnya hingga muncul sensasi tertentu dalam diri.

2. Menghayati

Menghayati diartikan mendalami atau merasakan betul-betul temuan-temuan yang  telah dilakukan pada fase merasakan. Indikator menghayati adalah sampai pada kesadaran pribadi terhadap sensasi yang diperolehnya

3. Menghayalkan

Menghayalkan adalah fase memunculkan kembali apa yang yang telah dirasakan apa yang dihayati dalam wujud khayalan dengan harapan memperoleh khayalan-khayalan lain yang baru. Pembebasan proses berfikir atau membuka keliaran-keliaran berfikir menjadi pendukung dalam fase mengkhayalkan. Semakin liar akan semakin berkembang daya imajinasi kitadalam melewati fase mengkhayalkan

4. Mengejawantahkan

Mengejawantahkan adalah fase mewujud dari tiga proses sebelumnya. Fase ini perlu menggunakan filter estetik agar curahan-curahan hasil fase sebelumnya lebih bernilai. Filter estetis ini juga diharapkan dapat memunculkan kreativitas yang bukan hanya peniruan, pengulangan, ataupun pencocokan dan pembenaran yang sudah ada/ terjadi

5. Memberi Bentuk

Memberi bentuk adalah fase penguatan pengejawantahan dengan proses alamiah, mengalir, dengan menggunakan simbol-simbol dan metafora sehingga keinginan dan angan-angan dapat menjadi sebuah karya. Fase yang dijabarkan di atas adalah bagian dari prosef kreatif untuk menemukan gagasan-gagasan hingga membangun gagasan tersebut menjadi ide dan mewujudkannya menjadi karya cipta kreatif . Temuan-temuan gagasan yang akan diejawantahkan dalam bentuk naskah dramabisa jadi berupa persoalan-persoalan atau problem-problem kehidupan yang perlu dipecahkan.

6. Menciptakan Konflik

Kreativitas pengarang dalam menulis naskah dapat dilihat dari kemampuan pengarang menciptakan konflik dengansurprise atau kejutan-kejutan,menjalin konflik-konflik tersebut, dan memberikanempati dalam penyelesaian konflik. Jika dalam jalinan konflik ada kekuatan tarik-menarik antara satu dengan yang lainnya makanaskah tersebut akan kaya dengan ketegangan. Naskah drama yang banyak memilikisuspense (ketegangan) akan semakin memikat baik untuk dibaca maupun dipentaskan.  Konflik biasanya dibangun oleh pertentangan antartokoh. Pertentangan karakter, pertentangan visi tokoh, pertentangan pandangan dan ideologi tokoh dan sebagainya. Pertikaian atau bangunan konflikyangakan menciptakandramatic actionatau lakuan

dramatik. Konflik berkembang karenaada kontradiksi antar tokoh dengan segala sesuatunya. Konflik akan semakin meningkat dan kemudian harus mencapai titik klimaks,dan setelah itu ada penyelesaian. Jalinan konflik inilah yang biasanya disebut plot atau alur drama.

7. Menciptakan Tokoh

Kehadiran tokoh/ pelaku dalam sebuah drama menjadi penting. Tokoh atau pelaku  akan menjadi penentu gerak alur cerita. Berdasarkan perannya terhadap jalan cerita terdapat tokoh protagonist yaitu tokoh yang mendukung cerita, tokoh antagonis yaitu tokoh penentang, dan tokoh tritagonisatau tokoh pembantu, baik terhadap tokoh protagonis maupun pada tokoh antagonis. Sedangkan berdasarkan fungsinya terdapat tokoh sentral (tokoh yang menjadi fokus gerak alur cerita), tokoh utama (tokoh pendukungdanatau penentang tokoh sentral), dan tokoh pembantu (tokoh pelengkap danatau tambahan dalamalurcerita).

8. Menciptakan Dialog

Dialog yang dibawakan tokoh/ pelaku merupakan salah satu aspek esensial yang ada dalam naskah drama. Namun bukan berarti bahwa naskah drama hanya tergantung pada dialog, melainkan banyak hal yang menjadikan dialog menjadi ciripenanda naskah drama. Dalam naskah drama, bahasa yang diwujudkan dalam bentuk dialog, dapat dijadikan penanda memahami siapa dan bagaimana tokoh/ pelaku dalam naskah drama tersebut. Lebih-lebih bila bentuk dialog tersebut disertai dengan lakuan akan lebih memperjelas maknanya. Muatan mosi, konsep, dan perasaan tokoh disampaikan melalui dialog.

9. Menciptakan Simbol

Pada dasarnya seluruh naskah drama tersaji dalam bentuk yang simbolis. Ada sesuatu yang disembunyikan penulis naskah. Segala sesuatu dikatakan tidak secara terus terang, karena bagaimanapun naskah drama sebagai karya sastra merupakan proses kreatifin dividu pengarang yang berbicara tentang dirinya yang disajikan secara tidak langsung atau dengan menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi.

Tanda-tanda kehidupan, simbol-simbol norma, tanda-tanda kebahasaan, simbol-simbol kejahatan, dsb dirangkai oleh penulis naskah yang nantinya dibawakan oleh aktor di atas  panggung untuk disampaikan kepada penonton.  Simbol-simbol dari penulis naskah yang nantinya dibawakan oleh aktortersebut melalui interpreatsi sutradara berfungsi untuk mengkomunikasikankonsep,gagasan umum, pola, atau bentuk..

10. MenciptakanNaskah Berbobot

Naskah drama dapat dikatagorikan berbobot jika naskah drama tersebut ditulis dengan dilandasi proses penciptaan seperti tersebut di atas antara lain:

Menampilkan gagasan baru melalui pemikiran imajinatif: merasakan, mengahayati, menghayalkan, dan menemukan kebenaran kehidupan dengan proses melihat, mendalami, dan mewujudkan. Memiliki konflik dengan surprise atau kejutan-kejutan, kaya suspense atau ketegangan sehingga memikat untuk dibaca maupun dipentaskan. Menghadirkan tokoh/pelaku sebagi penentu gerak alur cerita. Memiliki dialog yang bermuatan emosi, konsep, dan perasaan tokoh disertai dengan lakuan. Menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi. Menampilkan problem kehidupan manusia, mengandung aspek moral, dan mengandung nilai-nilai pendidikan.